Ticker

10/recent/ticker-posts

Header Ads Widget


 

Ketika Guru Menjadi Fondasi Peradaban

 

Tidak ada warisan yang lebih mulia dari ilmu, dan tidak ada profesi yang lebih agung dari mereka yang mengajarkannya. Dalam lintasan sejarah umat manusia, para pembangun peradaban sejati bukan hanya para raja atau jenderal yang menaklukkan negeri, melainkan para guru yang menaklukkan hati, membebaskan pikiran dari belenggu kebodohan, dan menyulut cahaya dalam jiwa-jiwa yang gelap

Dulu, sekitar bulan Agustus  tahun 1945. Negeri Jepang berada di titik paling gelap dalam sejarahnya. Asap tebal masih membubung dari tanah Hiroshima dan Nagasaki yang telah rata dengan tanah ketika di jatuhi Bom atom oleh tentara Amerika dan sekutunya. Ratusan ribu nyawa melayang, kota-kota lumpuh, dan moral bangsa berada di ambang kehancuran total. Kekaisaran Jepang yang dulunya perkasa kini bertekuk lutut di hadapan kenyataan perang. Di tengah puing-puing reruntuhan, kehancuran dan keputusasaan yang mendalam, Kaisar Hirohito berdiri menatap negerinya (jepang) yang hancur. Para jenderal militer dan menteri berkumpul dengan kepala tertunduk, bersiap menerima amarah, atau bahkan perintah untuk melakukan seppuku (ritual bunuh diri) demi menebus kehinaan kekalahan perang.

Namun, alih-alih menanyakan berapa jumlah tentara yang tersisa, atau berapa banyak senjata yang masih bisa digunakan untuk membalas dendam, Hirahito sang Kaisar Jepang justru memecah keheningan dengan pertanyaan yang mengejutkan semua orang yang hadir sang Kaisar bertanya : "Berapa jumlah guru yang masih tersisa (Berapa jumlah guru yg masih hidup?"

Ketika mendengar pertanyaan ini Para jenderal tertegun. Di dalam benak mereka yang dipenuhi oleh strategi dan taktik perang, pertanyaan  sang Kaisar itu terdengar asing. Mengapa di saat negara sedang hancur lebur, yang di cari dan di pertanyakan justru para pendidik (guru)?

Melihat kebingungan di wajah para bawahannya, Kaisar Hirohito dengan tenang namun tegas melanjutkan:

"Kita telah kalah dalam perang ini karena kita kalah dalam teknologi dan ilmu pengetahuan. Jika kita ingin bangkit dan mengejar ketertinggalan kita, kita harus belajar. Dan untuk belajar, kita membutuhkan guru. Kepada merekalah kita akan menitipkan masa depan bangsa ini. Kumpulkan semua guru yang masih hidup, karena di tangan mereka Jepang akan bangkit kembali."

Setelah mengumumkan menyerah kepada Dunia, Jepang langsung Fokus terhadap pembangunan SDM masyarakatnya melalui Dunia Pendidikan dengan menghapus mata pelajaran terkait militer. Meningkatkan kurikulum berfikir secara ilmiah, merevisi banyak buku mata pelajaran dn menanamkan semangat cinta damai demi meningkatkan moralitas  rakyatnya. Alhasil, dalam waktu yang tidak terlalu lama jepang yang awalnya hancur lebur akibat di jatuhi Bom atom oleh tentara Amerika dn sekutu dengan cepat menjelma menjadi salah satu negara maju di dunia sampai dengan saat ini.

Peradaban tidak dibangun dalam semalam. Ia tumbuh melalui proses panjang penanaman nilai, pembentukan cara berpikir, serta pembiasaan sikap hidup. Dalam proses inilah peran pendidik menjadi sangat strategis. Guru bukan hanya pekerja pendidikan, melainkan penentu arah masa depan sebuah bangsa.

Pertanyaan Kaisar Hirohito "Berapa jumlah guru yang masih hidup?" setelah hancurnya Hiroshima dan Nagasaki bukanlah sekadar penggalan sejarah atau mitos masa lalu. Bagi kita, kisah tersebut adalah sebuah cambuk keras yang seharusnya memukul kesadaran kita sebagai sebuah bangsa.

Ketika Jepang berada di titik nadir, mereka tidak melihat masa depan pada moncong senjata, melainkan pada kapur dan papan tulis di tangan para guru. Ironisnya, di Inegeri ini, kita sering kali menempatkan pendidikan sebagai prioritas kesekian, dan guru sang arsitek peradaban masih terus berjuang di bawah bayang-bayang ketidakpastian berapa upah per bulan? Lalu, kapan upah tersebut dicairkan?.

Bagaimana mungkin kita berharap bangsa ini melompat maju menjadi sebuah negara yang maju, jika mereka yang bertugas mencerdaskan kehidupan bangsa masih harus membagi konsentrasinya antara mengajar dan memikirkan cara bertahan hidup esok hari?

Pertanyaan Kaisar Hirohito seharusnya menjadi cermin besar bagi seluruh elemen bangsa ini:

1.   Untuk Pemerintah dan Pembuat Kebijakan

   Kisah dari Jepang mengajarkan bahwa investasi terbaik sebuah negara adalah manusia. Membangun infrastruktur fisik seperti gedung dan jalan memang penting, tetapi membangun SDM manusianya adalah hal yang jauh lebih penting. Sudah saatnya anggaran pendidikan benar-benar diarahkan untuk memuliakan guru: memberikan kepastian status, menyederhanakan birokrasi, dan menjamin upah yang layak bagi guru tetap maupun paruh waktu.

2.   Untuk Masyarakat Umum

     Kita harus berhenti memandang profesi guru dengan sebelah mata atau sekadar pelengkap. Menghormati guru bukan hanya saat mereka berada di dalam kelas, melainkan dengan mendukung kebijakan-kebijakan yang membela hak-hak mereka. Pendidikan yang berkualitas adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas sekolah.

3.   Untuk Para Pendidik

     Di tengah segala keterbatasan, pertanyaan Kaisar Hirohito " Berapa jumlah guru yang masih hidup?" ini adalah pengingat betapa luhurnya tugas seorang guru. Anda bukan sekadar pengajar materi di dalam buku, melainkan pemegang kunci kebangkitan bangsa. di tangan andalah masa depan generasi negeri ini dititipkan.

Kita tidak perlu menunggu negara ini luluh lantak oleh bencana atau perang untuk menyadari pentingnya peran guru. Cambuk sejarah dari Jepang sudah cukup untuk menyadarkan kita bahwa tidak ada bangsa yang bisa berdiri tegak jika para pendidiknya dibiarkan membungkuk karena beban hidup.

Mari kita maknai kembali tanggal 2 Mei, Hari Pendidikan Nasional ini, bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan sebagai momentum untuk berbenah. Menyelamatkan dan menyejahterakan guru adalah langkah pertama untuk menyelamatkan masa depan Indonesia.



Posting Komentar

0 Komentar