Tidak
ada warisan yang lebih mulia dari ilmu, dan tidak ada profesi yang lebih agung
dari mereka yang mengajarkannya. Dalam lintasan sejarah umat manusia, para
pembangun peradaban sejati bukan hanya para raja atau jenderal yang menaklukkan
negeri, melainkan para guru yang menaklukkan hati, membebaskan pikiran dari
belenggu kebodohan, dan menyulut cahaya dalam jiwa-jiwa yang gelap
Dulu, sekitar bulan
Agustus tahun 1945. Negeri Jepang berada di titik paling gelap dalam
sejarahnya. Asap tebal masih membubung dari tanah Hiroshima dan Nagasaki yang
telah rata dengan tanah ketika di jatuhi Bom atom oleh tentara Amerika dan
sekutunya. Ratusan ribu nyawa melayang, kota-kota lumpuh, dan moral bangsa
berada di ambang kehancuran total. Kekaisaran Jepang yang dulunya perkasa kini
bertekuk lutut di hadapan kenyataan perang. Di tengah puing-puing
reruntuhan, kehancuran dan keputusasaan yang mendalam, Kaisar Hirohito berdiri
menatap negerinya (jepang) yang hancur. Para jenderal militer dan menteri
berkumpul dengan kepala tertunduk, bersiap menerima amarah, atau bahkan
perintah untuk melakukan seppuku (ritual bunuh diri) demi menebus kehinaan
kekalahan perang.
Namun, alih-alih
menanyakan berapa jumlah tentara yang tersisa, atau berapa banyak senjata yang
masih bisa digunakan untuk membalas dendam, Hirahito sang Kaisar Jepang justru
memecah keheningan dengan pertanyaan yang mengejutkan semua orang yang hadir
sang Kaisar bertanya : "Berapa jumlah guru yang masih tersisa (Berapa
jumlah guru yg masih hidup?"
Ketika mendengar pertanyaan
ini Para jenderal tertegun. Di dalam benak mereka yang dipenuhi oleh strategi
dan taktik perang, pertanyaan sang Kaisar itu terdengar asing.
Mengapa di saat negara sedang hancur lebur, yang di cari dan di pertanyakan
justru para pendidik (guru)?
Melihat kebingungan
di wajah para bawahannya, Kaisar Hirohito dengan tenang namun tegas
melanjutkan:
"Kita telah kalah dalam perang
ini karena kita kalah dalam teknologi dan ilmu pengetahuan. Jika kita ingin
bangkit dan mengejar ketertinggalan kita, kita harus belajar. Dan untuk
belajar, kita membutuhkan guru. Kepada merekalah kita akan menitipkan masa
depan bangsa ini. Kumpulkan semua guru yang masih hidup, karena di tangan
mereka Jepang akan bangkit kembali."
Setelah mengumumkan
menyerah kepada Dunia, Jepang langsung Fokus terhadap pembangunan SDM
masyarakatnya melalui Dunia Pendidikan dengan menghapus mata pelajaran terkait
militer. Meningkatkan kurikulum berfikir secara ilmiah, merevisi banyak buku
mata pelajaran dn menanamkan semangat cinta damai demi meningkatkan
moralitas rakyatnya. Alhasil, dalam waktu yang tidak terlalu lama
jepang yang awalnya hancur lebur akibat di jatuhi Bom atom oleh tentara Amerika
dn sekutu dengan cepat menjelma menjadi salah satu negara maju di dunia sampai
dengan saat ini.
Peradaban tidak
dibangun dalam semalam. Ia tumbuh melalui proses panjang penanaman nilai,
pembentukan cara berpikir, serta pembiasaan sikap hidup. Dalam proses inilah
peran pendidik menjadi sangat strategis. Guru bukan hanya pekerja pendidikan,
melainkan penentu arah masa depan sebuah bangsa.
Pertanyaan Kaisar Hirohito "Berapa
jumlah guru yang masih hidup?" setelah hancurnya Hiroshima dan
Nagasaki bukanlah sekadar penggalan sejarah atau mitos masa lalu. Bagi kita,
kisah tersebut adalah sebuah cambuk keras yang seharusnya memukul kesadaran
kita sebagai sebuah bangsa.
Ketika Jepang berada di titik nadir,
mereka tidak melihat masa depan pada moncong senjata, melainkan pada kapur dan
papan tulis di tangan para guru. Ironisnya, di Inegeri ini, kita sering kali
menempatkan pendidikan sebagai prioritas kesekian, dan guru sang arsitek
peradaban masih terus berjuang di bawah bayang-bayang ketidakpastian berapa
upah per bulan? Lalu, kapan upah tersebut dicairkan?.
Bagaimana mungkin
kita berharap bangsa ini melompat maju menjadi sebuah negara yang maju, jika
mereka yang bertugas mencerdaskan kehidupan bangsa masih harus membagi
konsentrasinya antara mengajar dan memikirkan cara bertahan hidup esok hari?
Pertanyaan Kaisar
Hirohito seharusnya menjadi cermin besar bagi seluruh elemen bangsa ini:
1. Untuk Pemerintah dan Pembuat Kebijakan
Kisah dari Jepang mengajarkan bahwa investasi terbaik sebuah negara adalah manusia. Membangun infrastruktur fisik seperti gedung dan jalan memang penting, tetapi membangun SDM manusianya adalah hal yang jauh lebih penting. Sudah saatnya anggaran pendidikan benar-benar diarahkan untuk memuliakan guru: memberikan kepastian status, menyederhanakan birokrasi, dan menjamin upah yang layak bagi guru tetap maupun paruh waktu.
2. Untuk Masyarakat Umum
Kita harus berhenti memandang profesi guru dengan sebelah mata atau sekadar pelengkap. Menghormati guru bukan hanya saat mereka berada di dalam kelas, melainkan dengan mendukung kebijakan-kebijakan yang membela hak-hak mereka. Pendidikan yang berkualitas adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas sekolah.
3. Untuk Para Pendidik
Di tengah segala keterbatasan, pertanyaan Kaisar Hirohito " Berapa jumlah guru yang masih hidup?" ini adalah pengingat betapa luhurnya tugas seorang guru. Anda bukan sekadar pengajar materi di dalam buku, melainkan pemegang kunci kebangkitan bangsa. di tangan andalah masa depan generasi negeri ini dititipkan.
Kita tidak
perlu menunggu negara ini luluh lantak oleh bencana atau perang untuk menyadari
pentingnya peran guru. Cambuk sejarah dari Jepang sudah cukup untuk menyadarkan
kita bahwa tidak ada bangsa yang bisa berdiri tegak jika para pendidiknya
dibiarkan membungkuk karena beban hidup.
Mari kita maknai
kembali tanggal 2 Mei, Hari Pendidikan Nasional ini, bukan sekadar seremoni
tahunan, melainkan sebagai momentum untuk berbenah. Menyelamatkan dan
menyejahterakan guru adalah langkah pertama untuk menyelamatkan masa depan
Indonesia.
0 Komentar